Pengertian Seni Sastra Adalah – Menurut Para Ahli, Ciri-ciri, Fungsi, Manfaat, Unsur dan Jenis-Jenis

Apa Itu Seni Sastra ?

Seni sastra atau seni sastra adalah sesuatu dalam bentuk tulisan atau cerita dengan nilai-nilai artistik dan budaya yang mewakili keindahan bahasa dan bahasa sesuai dengan makna tertentu.
Sastra didefinisikan sebagai bahasa yang digunakan dalam buku dan bukan bahasa yang umum. Selain itu, sastra juga dapat didefinisikan sebagai tulisan, yang memiliki beberapa fitur luar biasa dibandingkan dengan tulisan-tulisan lain, seperti keaslian, pengerjaan dan keindahan dalam konten dan ekspresi.


Pengertian Seni Sastra Menurut Para Ahli


Berikut ini terdapat beberapa pengertian seni sastra menurut para ahli, antara lain:
  1. Menurut Semi, sastra adalah bentuk dan hasil karya seni kreatif yang objeknya, yaitu manusia dan hidupnya, menggunakan bahasa yang merupakan medium.
  2. Menurut Panuti Sudjiman, ia menjelaskan bahwa sastra adalah karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai karakteristik keunggulan, seperti orisinalitas, pengerjaan, keindahan dalam konten dan ekspresi.
  3. Menurut Ahmad Badrun, sastra adalah kegiatan seni yang menggunakan bahasa dan sejumlah simbol lain sebagai alat dan imajinatif.
  4. Menurut Eagleton, sastra adalah karya tulisan yang bagus (Belle Letters) yang merekam bentuk bahasa. dibuat aneh setiap hari dengan cara yang berbeda dengan bahasa yang diringkas, dimasukkan, diputar, diperpanjang dan sebaliknya.
  5. Menurut Plato, sastra adalah hasil imitasi atau deskripsi realitas (mimesis). Karya sastra harus menjadi contoh alam semesta dan sekaligus model realitas. Oleh karena itu, nilai sastra akan lebih rendah dan lebih jauh dari dunia ide.
  6. Menurut Aristoteles, sastra adalah kegiatan lain melalui agama, sains dan filsafat.
  7. Menurut Robert Scholes, sastra tentu saja sebuah kata, bukan objek.
  8. Menurut Sapardi, sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai media. Bahasa itu sendiri adalah ciptaan sosial. Literatur menunjukkan gambar kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah realitas sosial.
  9. Menurut Taum, temuan bahwa sastra adalah karya berhak cipta atau fiksi yang banyak akal atau sastra adalah penggunaan bahasa yang indah dan bermanfaat yang berarti hal-hal lain

Fungsi Seni Sastra

Fungsi dari seni sastra adalah sebagai berikut:

Di dalam suatu karya sastra ini terselip pesan moral dibeberapa bagian seperti pada awal, tengah atau pun akhir karya. Pesan moral tersebut ada yang penyampaiannnya dengan secara langsung serta ada juga yang dengan secara sembunyi-sembunyi. Tujuannya ialah supaya pembaca atau juga penikmat karya sastra itu mempunyai pandangan atau akan bertindak serta juga perilakukan seperti ajakan dari pembuat karya sastra.
  •  Menyampaikan Kritik
Terdapat juga karya sastra yang memangdibuat sengaja guna menyampaikan kritik yang sifatnya itu kritik sosial, ekonomi, politik serta juga lain sebagainya. Hal ini kemudian memiliki tujuan supaya penikmat sastra tersebut ada kesadaran mengenai kritik tersebut serta menindaklanjuti.
  • Menjadikan Rasa Nasionalisme Bangkit
Sastra tersebut membangun rasa nasionalisme dengan melalui sugesti yang dibangkitkan dari dalam para penikmatnya yang setelah sugesti itu diperkuan yakni dengan ditanamkan nilai sertasemangat kebangsaan sertajuga nasionalisme.
  • Pelestarian Budaya
Sastra ini merupakan salah satu sarana di dalam melestarikan budaya ialah budaya yang asalnya dari lisan setelah itu diabadikan dengan sebuah tulisan.
  • Sarana Pendidikan
Secara tidak langsung, seseorang yang menikmati sebuah karya sastra itu juga mempelajari nilai, norma dan juga ajaran budi pekerti yang luhur.

Ciri-Ciri Seni Sastra

Ciri-ciri dari seni sastra adalah sebagai berikut:
  • Seni Sastra Berupa Bahasa
    Seni sastra yang berbentuk bahasa memiliki maksud sastra berbentuk ungkapan, kata-kata, cerita maupun gaya bahasa.
  • Seni Sastra Berupa Ungkapan Perasaan
    Seni sastra berbentuk ungkapan perasaan memiliki maksud sastra berbentuk kitab, buku, tulisan maupun karangan.
  • Seni Sastra Yang Tertuan Dalam Gagasan Atau Nilai
    Seni sastra yang tertuan dalam gagasan atau nilai, memiliki maksud sastra berbentuk ajaran, pedoman, perintah ataupun pendidikan.

Manfaat Seni Sastra

Adapun manfaat dari seni sastra adalah sebagai berikut:
  • Menampilkan kebenaran hidup berupa kisah yang ada didalamnya.
  • Memperkaya rohani penikmatnya. Yang pada umummnya sastra menyisakan nilai dan pesan untuk penikmatnya menjadikan dapat memperkaya rohani penikmat sastra tersebut
  • Melewati batas bangsa dan zaman. Karya sastra suatu negara juga bisa terkenal di negara lain Karya sastra juga tetap hidup walaupun sudah ditulis ratusan tahun lalu.
  • Bahasa yang disajikan dalam sastra indah dan juga menarik. Dengan bahasa yang menarik seringkali karya sastra menggunakan kalimat yang santun sehingga akan melekat pada penikmat sastra tersebut.
  • Sastra berisikan kebudayaan sehingga dapat menjadikan para penikmatnya menjadi manusia yang lebih berbudaya.

Unsur-Unsur Seni Sastra

Ada unsur-unsur dalam seni sastra yang membentuk seni sastra itu sendiri. yaitu sebagai berikut:

1. Unsur intrinsik

Elemen intrinsik adalah elemen yang mempengaruhi seni sastra yang terkandung dalam seni sastra itu sendiri. Unsur-unsur sastra intrinsik adalah sebagai berikut:
  • Tema yang merupakan subjek yang terkandung dalam cerita.
  • Amanat, pesan yang ingin disampaikan penulis kepada pembacanya.
  • Karakter / watak yang merupakan karakter dalam cerita. Karakter-karakter ini dapat diklasifikasikan sebagai: karakter utama yang menjadi fokus utama dan karakter pendukung yang menyertai karakter utama. Dilihat dari karakter baik dan buruk, karakter dibagi menjadi beberapa bagian berikut: protagonis, antagonis.
  • Konflik, masalah yang dimiliki karakter dalam cerita. Konflik dibagi menjadi dua jenis: konflik internal (konflik di mana tidak ada karakter lain yang terlibat) dan konflik eksternal (konflik di mana karakter lain terlibat).
  • Setting itu adalah gambaran tempat, waktu dan suasana.
  • Aluri, aksi dalam karya sastra dari awal hingga akhir
  • Simbol, yaitu penggunaan karya sastra untuk mewakili hal yang abstrak.
  • Sudut pandang, yaitu penerapan karakter penulis dalam cerita. Perspektif penulis dibagi menjadi: orang pertama diidentifikasi dengan menggunakan kata “I” atau “I”, orang kedua diidentifikasi dengan menggunakan kata “Anda” dan orang ketiga diidentifikasi dengan menggunakan kata “aku” atau “aku”. kata “mereka” atau “dia” ditandai.

2. Unsur ekstrinsik

Elemen ekstrinsik adalah elemen yang membentuk karya sastra dari luar. Secara umum, elemen ini berupa latar belakang kehidupan, kepercayaan dan perspektif penulis penulis, adat istiadat, situasi politik, sejarah dan ekonomi yang ada dalam karya sastra. Meskipun unsur ekstrinsik Nerada terletak di luar karya sastra, unsur ini tetap merupakan unsur yang membangun karya sastra. Sehingga penonton bisa menikmati karya sastra.


Jenis-Jenis Sastra

Seni sastra tidak hanya berhubungan dengan sebuah tulisan tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan suatu pengalaman atau pemikiran tertentu. Oleh sebab itu, seni sastra bisa dibagi menjadi dua, yaitu:

1. Seni Sastra Tulis

Seni sastra tulis merupakan sebuah bentuk karya sastra yang dituangkan dalam sebuah bentuk tulisan, yaitu kombinasi sebuah huruf yang mempunyai makna atau arti. Banyak sekali jenis seni sastra tulisan yang berkembang di masyarakat, Contohnya dalam bentuk prosa, puisi, cerita fiksi, dan essai.

a. Pujangga Lama
Karya sastra Pujangga Lama di Indonesia dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya sastra di Indonesia di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat.
  • Syair merupakan puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri atas 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud). Pantun adalah sejenis puisi yang terdiri atas 4 baris bersajak ab-ab atau aa-aa. Dua baris pertama yaitu sampiran, yang umumnya tentang alam (flora dan fauna). Dua baris terakhir yaitu isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
  • Gurindam merupakan satu bentuk puisi Melayu lama yang terdiri dari dua baris kalimat dengan irama akhir yang sama, yang merupakan satu kesatuan yang utuh. Baris pertama berisikan semacam soal, masalah atau perjanjian dan baris kedua berisikan jawaban nya atau akibat dari masalah atau perjanjian pada baris pertama tadi. Hikayat merupakan salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng, maupun sejarah.
Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama. Beberapa karya sastra pada masa pujangga lama diantaranya yaitu Hikayat Abdullah, Hikayat Andaken Penurat, dan Hikayat Bayan Budiman.
 
b. Sastra Melayu Lama
Sastra Melayu Lama adalah karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870–1942, yang berkembang di lingkungan masyarakat Sumatra seperti Langkat, Tapanuli, Padang dan daerah Sumatra lainnya, Cina dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat. Beberapa contoh karya sastra Melayu lama yakni Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo), Bunga Rampai oleh A.F van Dewall, Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe, Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan, Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lain

c. Angkatan Balai Pustaka
Karya sastra angkatan Balai Pustaka muncul di Indonesia sejak tahun 1920–1950, yang dipelopori oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini. Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak dan bahasa Madura. Contoh karya sastra angkatan Balai Pustaka antara lain Azab dan Sengsara, Seorang Gadis oleh Merari Siregar, Sengsara Membawa Nikmat oleh Tulis Sutan Sati, dan Siti Nurbaya oleh Marah Rusli.

d. Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis menjadi “bapak” sastra modern Indonesia. Pada masa itu, terbit pula majalah “Poedjangga Baroe” yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930–1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana. Karya sastra Pujangga Baru di antaranya Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan Belenggu oleh Armijn Pane. Makna Pujangga atau Bujangga adalah pemimpin agama atau pendeta. Tetapi, makna pujangga dalam pujangga baru adalah ”pencipta”.

e. Angkatan ’45
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan ’45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Misalnya, Surat Cinta Enday Rasidin, Simphoni oleh Subagio Sastrowardojo, dan Balada Orangorang Tercinta oleh W.S.Rendra

f. Angkatan 66-70-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastranya. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini seperti Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Gunawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hurip, Sutardji Calzoum Bachri, dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B.Jassin.
Seorang sastrawan pada angkatan 50–60-an yang mendapat tempat pada angkatan ini adalah Iwan Simatupang. Pada masanya, karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian. Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Gunawan Mohammad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Widjaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya. Karya Sastra Angkatan ‘66 di antaranya Amuk, Kapak, Laut Belum Pasang, Meditasi, Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur, Tergantung Pada Angin, Dukamu Abadi, Aquarium, Mata Pisau dan Perahu Kertas. 

g. Angkatan 80-an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas di berbagai majalah dan penerbitan umum. Beberapa sastrawan yang dapat mewakili Angkatan dekade 80-an ini antara lain Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, dan Kurniawan Junaidi. Karya Sastra Angkatan Dasawarsa 80 antara lain Badai Pasti Berlalu, Cintaku di Kampus Biru, Sajak Sikat Gigi, Arjuna Mencari Cinta, Manusia Kamar, dan Karmila. Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novelnovel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 80-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 80-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop (tetapi tetap sah disebut sastra, jika sastra dianggap sebagai salah satu alat komunikasi), yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman dengan Serial Lupus-nya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih “berat”. Budaya barat dan konflik-konfliknya sebagai tema utama cerita terus mempengaruhi sastra Indonesia sampai tahun 2000.
 
h. Angkatan 2000-an
Sastrawan angkatan 2000 mulai merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 90-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kisah novel fiksi. Apakah kamu mengenal Ayu Utami dengan karyanya Saman? Sebuah fragmen dari cerita Laila Tak Mampir di New York. Karya ini menandai awal bangkitnya kembali sastra Indonesia setelah hampir 20 tahun. Gaya penulisan Ayu Utami yang terbuka, bahkan vulgar, itulah yang membuatnya menonjol dari pengarang-pengarang yang lain. Novel lain yang ditulisnya adalah Larung.
 

2. Seni Sastra Lisan

Seni sastra lisan disampaikan dengan bahasa lisan , yaitu dengan dituturkan secara langsung kepada sih pendengar, dengan atau tanpa iringan musik tertentu.
Bentuk seni sastra lisan yang berkembang di Indonesia, antara lain:

a. Mitos atau Mite
Mitos adalah seni sastra bersifat religius, namun memberi rasio pada kepercayaan dan praktik keagamaan. Masalah pokok yang diulas di dalam mitos adalah masalah kehidupan manusia, asal mula manusia dan makhluk hidup lain, sebab manusia di bumi, dan tujuan akhir hidup manusia. Fungsi mitos yaitu memberi penjelasan tentang alam semesta dan keteraturan hidup dan perilaku.
Mite yang hidup di Indonesia biasanya bercerita tentang proses terciptanya alam semesta (kosmogony), asal usul dan silsilah para dewa (theogony), pencitaan manusia pertama dan pembawa kebudayaan, asal usul makanan pokok (padi), dan sebagainya. Berikut salah satu mite yang hidup di Jawa.
“Konon, pada masa dahulu kala Pulau Jawa belum berpenghuni sehingga mudah terombang-ambing terkena ombak laut. Hanya Bathara Guru dan Bathari Parameswari yang berani menempatinya. Maka, agar Pulau Jawa menjadi tenang, Bathara Guru memanggil para dewa untuk datang ke Jambudwipa. Intinya mereka diperintah untuk memindahkan Gunung Mahameru ke Pulau Jawa untuk dijadikan pasak. Para dewa pun bergotong-royong mengangkat gunung tersebut. Bathara Wisnu berubah menjadi tali untuk mengikat dan Bathara Brahma menjadi kura-kura untuk kendaraannya. Separuh gunung ditinggal dan puncaknya bisa sampai ke Jawa. Selama perjalanan, ada bagian-bagian gunung yang jatuh dan membentuk Gunung Wilis, Gunung Kelud, serta Gunung Kawi. Puncaknya menjadi Gunung Semeru dan menjadi pusat dunia seperti Gunung Mahameru di Jambudwipa.
 
b. Legenda
Legenda merupakan cerita yang bersifat semihistoris mengenai pahlawan, terciptanya adat, perpindahan penduduk, dan selalu berisi percampuran antara fakta dan supernatural. Legenda tidak banyak mengandung masalah, namun lebih kompleks dari mitos. Fungsinya antara lain memberi pelajaran, ajaran moral, meningkatkan rasa bangga terhadap suku bangsa atau moyangnya. Suatu legenda yang lebih panjang berbentuk puisi atau prosa ritmis dikenal dengan epik.
 
c. Epik
Epik merupakan cerita lisan yang panjang, kadang-kadang dalam bentuk puisi atau prosa ritmis yang menceritakan perbuatan-perbuatan besar dalam kehidupan orang yang sebenarnya atau yang ada dalam legenda.
 
d. Dongeng
Dongeng merupakan suatu cerita yang tidak nyata dan tidak historis yang fungsinya untuk memberi hiburan dan memberi pelajaran atau nasihat.


Baca Juga: Nama-nama Negara di Benua Afrika Beserta Ibukotanya


Demikian Pembahasan Materi Kita Kali ini Mengenai Seni Sastra. Jangan Lupa Tetap Bersama Kami . Semoga Bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita. Terimakasih.

Penelusuran yang terkait dengan Seni Sastra

  •     contoh seni sastra
  •     fungsi seni sastra
  •     unsur seni sastra
  •     ciri-ciri seni sastra
  •     gambar seni sastra
  •     pengertian seni sastra menurut para ahli
  •     seni sastra adalah brainly
  •     kesimpulan seni sastra