Apa Itu Kalam dan Pembagiannya dalam Ilmu Nahwu Secara Lengkap

Pengertian

Sesuai arti bahasa kalam adalah isim yang diucapkan oleh manusia baik itu berfaedah atau tidak, sedangkan sesuai arti istilah kalam adalah :
الكَلَامُ هُوَ اللَّفْظُ المُرَكَّبُ المُفِيْدُ بِالوَضْعِ
Kalam adalah lafadz (اللَّفْظُ) yang tersusun (المُرَكَّبُ), berfaedah (المُفِيْدُ), dan diucapkan dengan sadar (بالوضع).
Maksud dari arti di atas menurut para ahli nahwu yaitu kalam itu harus memenuhi empat syarat, yaitu:
اللَّفْظُ  /  lafadz yang dimaksud lafadz adalah suara yang mengandung beberapa huruf hijaiyah, contoh jika kamu katakan 'زَيْدٌ' , maka itu suara yang tersusun dari huruf hijaiyah berupa ز ي د, jika tidak tersusun dari huruf hijaiyah seperti suara benda yang jatuh maka tidak termasuk lafadz.
المُرَكَّبُ  / yang tersusun : maksudnya ialah yang tersusun dari dua kata atau lebih, contoh:
 قَامَ زَيْدٌ
زَيْدٌ قَائِمٌ
pada contoh pertama tersusun dari fi'il dan fa'il, setiap fa'il itu dibaca rofa', maka kata زَيْدٌ dibaca rofa' dengan tanda rofa'nya yaitu dhommah, dan pada contoh kedua di atas tersusun dari mubtada' dan khobar, setiap mubtada' dibaca rofa' karena berada di awal kalimat, dan khobar juga dibaca rofa' karena mubdata'.
Maka yang dimaksud dengan murokkab itu tersusun dari dua atau lebih kata, dan jika hanya terdapat satu kata saja 'زَيْدٌ' maka bukan termasuk kalam menurut ahli nahwu.
المُفِيْدُ   /  berfaedah: maksudnya adalah kalimat yang diucapkan itu harus memiliki faedah yang membuat pembicara dan lawan bicaranya itu diam karena sudah paham dengan yang dikatakan, contoh seperti kalimat:
 قَامَ زَيْدٌ  Zaid berdiri
زَيْدٌ قَائِمٌ  Zaid orang yang berdiri
maka kedua kalimat di atas itu memberikan faedah atau informasi lengkap dan utuh kepada pembicara dan lawan bicaranya bahwa zaid berdiri, maka sesungguhnya pendengar/lawan bicara jika mendengarkan kedua kalimat di atas tidak menunggu apapun, itu yang menunjukkan bahwa ia paham karena kalimatnya sudah sempurna, dan membuat pembicara diam karena tidak perlu menjelaskan apapun lagi.

Adapun kata yang murokkab tapi tidak mufid, contoh:
 غُلَامُ زَيْدٍ Anak Zaid
إنْ قَامَ زَيْدٌ  Jika zaid berdiri
pada contoh pertama, itu hanya susunan yang mudhof - mudhof ilaih yang kedudukannya hanyalah kata tanpa penjelas dan tanpa fi'il.
dan contoh kedua, itu adalah kalimat syarat yang diawali dengan 'jika' dan tidak mengandung kalimat jawab, maka contoh kedua juga menjadi tidak lengkap dan membuat orang yang mendengar akan bertanya lagi. 
maka kedua contoh di atas walaupun murokkab atau tersusun tapi karena tidak berfaedah maka ia tidak termasuk kalam.

بالوضع  /  diucapkan secara sadar Sebagian ulama nahwu menafsirkan kata ini dengan kata 'sadar', maka semua kata atau yang diucapkan oleh "orang tidur/ngelindur" "orang gila" maka tidak termasuk kalam menurut ahli nahwu, sebagian dari ahli nahwu juga menafsirkan kata بالوضع dengan perkataan orang Arab, maka perkataan orang selain Arab itu juga tidak termasuk kalam menurut ahli nahwu.


Secara sederhana kalam dapat diartikan sebagai kalimat sempurna, yakni setiap kalimat yang dapat dipahami artinya dengan sempurna tanpa si pendengar harus bertanya tanya lagi apa maksud dari kalimat tersebut.

Sedangkan menurut istilah ulama Nahwu, 

الكَلَامُ هُوَ اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ الْمُفِيُد بِالْوَضْعِ

"Kalam adalah setiap lafaz yang tersusun lagi yang berfaedah
dan diucapkan dengan sengaja"

Yakni:

- Lafaz artinya ucapan kata.

- Tersusun maksudnya lafaznya terdiri dari dua kata atau lebih.

Contoh kalimat yang terdiri dari 2 kata:
محمد طَالِبٌ
 Muhammad seorang pelajar

Contoh kalimat yang terdiri lebih dari 2 kata:

محمد طَالِبٌ مُجْتَهِدٌ
 Muhammad seorang pelajar yang giat

- Berfaedah maksudnya kalimatnya sempurna tanpa membuat si pendengar harus bertanya tanya apa maksud kalimat tersebut.

Untuk contoh kalimat sempurna bisa dilihat contoh di atas.

Contoh kalimat tidak sempurna:
مَنْ جَدَّ
“Barang siapa bersungguh sungguh”

Susunan kata di atas tidak dapat sempurna karena orang akan bertanya tanya kelanjutan kalimat itu.

Perhatikan lagi kalimat di atas, bukankah kita akan bertanya tanya “memang kenapa jika seseorang bersengguh sungguh?”. Jadi agar kalimat di atas sempurna, kita harus menambahkan satu dua kata lagi di depannya atau di belakang. Misalnya, 

مَنْ جَدَّ وَجَدَ
“Barang siapa bersungguh sungguh maka dapatlah ia (apa yang dicari)”

- Diucapkan dengan sengaja maksudnya lafaz tersebut diucapkan dengan sengaja dan dalam keadaan sadar, bukan dalam kedaan mabuk, ngigau, latah dan lain sebagainya.

Jadi, secara istilah ilmu Nahwu, kalam dapat didefinisikan sebagai kalimat yang memenuhi syarat berikut:
1. Berbentuk lafaz atau diucapkan, bukan dalam bentuk tulisan bukan juga isyarat.
2. Terdiri dari dua kata atau lebih.
3. Berfaedah.
4. Diucapkan dengan sengaja dan sadar.  



  1. Pembagian Kalam
Spektrum kalam (kalimat) inilah yang akan mewarnai femahaman kita dalam klasifikasi kalam. Para ulama nahwu (Nuhhaat) mengklasifikasikan kalam ke dalam 3 jenis, yakni: Kalimat Isim, Kalimat Fi’il dan Harf.
1)     Kalimat isim,
  • Pengertian Isim
Kalimat isim (kata benda) adalah setiap kata yang menunjukan:
  1. Nama benda, seperti: مَحْفَظَةٌ tas, كِتَابٌ buku, قَلَمٌ pena, مِمْسَحَةpenghapus,مِسْطَرَةٌ penggaris, dan lain-lain.
  2. Orang, seperti: اَحْمَدُ Ahmad, فَاطِمَة Fatimah, ُ اَبُوْ هُرَيْرَةَ Abu Hurairah,جِبْرِيْلُ Jibril, اِبْلِيْسُ Iblis, dan lain-lain
  3. Gelar, seperti:مُهَنْدِسٌ insinyur, دُكْتُوْرٌ Doktor, مُدِيْرٌ مَدْرَسَةٌٌ Kepala Seklah, رَئِسْ Ketua, ٌ حُفَّاظٌ penghafal, dan lain-lain
  4. Kota, seperti:مَدِيْنَةُ اْلَمُنَوَّرَةِ Madinah Munawarah, مِصْرٌ Mesir, سُوْكَابُوْمِىْSukabumi, جَاكَرْتَا Jakarta, dan lain-lain
  5. Negara, seperti:اَمْرِيْكًا Amerika, اِنْدُوْنِيْسِيَّ Indonesia, , عَرَبٌ سَعُوْدِيٌّArab Saudi, فَلِيْستِيْنَا Palestina, dan lain-lain
  6. Binatang/tumbuhan, seperti: dan سَمَكٌ, ikan جَامُوْسٌ, kerbau دِيْكٌ, فَأْرٌ, tikus هِرَّةٌ, tikus, فِلْفِلٌ cabe,, خُضَرٌ sayuran, dan lain-lain
dan Tempat, seperti: حَمَّامٌ toilet, فَصْلٌ kelas,غُرْفَةٌ kamar, مَدْرَسَةٌsekolah,مَكْتَبَةٌ perpustakaan, dan lain-lain.
  • Ciri-Ciri Isim
فَالِاسْمُ يُعْرَفُ بالخفض وَالتَّنْوِينِ, وَدُخُولِ اَلْأَلِفِ وَاللَّام
Adapun Isim itu bisa diketahui melalui :
  • Khafadh (Berharkat Kasrah disebabkan Huruf Huruf Khafadh)
  • Tanwin (Dengan Harkat Yang bertanwin)
  • Dan kemasukan alif-lam.
وَحُرُوفِ اَلْخَفْضِ, وَهِيَ مِنْ, وَإِلَى, وَعَنْ, وَعَلَى, وَفِي , وَرُبَّ, وَالْبَاءُ, وَالْكَافُ, وَاللَّامُ
Adapun huruf khafadh ialah :
  • Huruf mim (Dari)
  • Huruf Ila (Ke/Kepada/Sampai)
  • Huruf ‘An (DariPada)
  • Huruf ‘alaa (Atas)
  • Huruf Fii (pada/Didalam)
  • Huruf Rubb (Berapa Banyak)
  • Huruf Ba (dengan)
  • Huruf Kaaf (Seperti)
  • Huruf Laam (Untuk/Bagi/milik)
وَحُرُوفُ اَلْقَسَمِ, وَهِيَ اَلْوَاوُ, وَالْبَاءُ, وَالتَّاءُ
Adapun huruf qasam (sumpah)adalah :
  • Huruf waw, (Demi)
  • Huruf ba (Demi)
  • Huruf ta. (Demi)
2)  Kalimat fi’il (kata kerja)
  • Pengertian Fi’il
Kalimat fi’il adalah setiap kata yang menunjukan pekerjaan pada waktu tertentu.
ذَهَبَ يَذْهَبُ = pergi, berangkat
دَخَلَ بَدْخُلُ  = masuk
جَلَسَ يَجْلِسُ = duduk
تَعَلَّمَ يَتَعَلَّمُ = belajar
كَتَبَ يَكْتُبُ = menulis
  • Ciri-ciri Fi’il
.وَالْفِعْلُ يُعْرَفُ بِقَدْ, وَالسِّينِ وَسَوْفَ وَتَاءِ اَلتَّأْنِيثِ اَلسَّاكِنَةِ
Adapun Ciri alamat Fiil bisa di ketahui dengan adanya :
  • Qod (Bawhasannya)
  • Sin (Nanti)
  • Saufa(Nanti akan)
  • Ta Ta’nits sakiinah ( Pelaku perempuan)
3)  Kalimat huruf (kata keterangan)
.وَالْحَرْفُ مَا لَا يَصْلُحُ مَعَهُ دَلِيلُ اَلِاسْمِ وَلَا دَلِيلُ اَلْفِعْلِ
Adapun “Huruf” adalah Lafadz Yang tidak pantas disertai Alamat (Tanda) Isim dan juga alamat (Tanda) Fi’il.
Kalimat Huruf adalah kata yang tidak memiliki makna tertentu, kecuali disandarkan pada kata benda.
  • مِن = dari. Contoh kalimat, اَنَا اَخْرُجُ مِنَ اْلبَيْتِ = saya keluar dari rumah
  • اِلىَ = ke. Contoh kalimat, هُوَ بُسَلِّمُ اْلكِتَابَ اِلىَ اْلاُسْتَاذِ = dia menyerahkan buku itu ke gurunya.
  • فِىْ= dalam. Contoh kalimat, تَقْرَأُ اْلقُرْاَانَ فِىْ اْلمَسْجِدِ = anda membaca al-quran di masjid
  • عَنْ = dari. Contoh kalimat, يَسْأَلُ شَهِيْدٌ عَنِ الشَّهْرِيَّةِ = syahid menanyakan tentang infak bulanan.
  • عَلىَ = ke (atas). Contoh kalimat,قَامَ التَّلاَ مِيْذُعَلىَ اْلبِلاَطِ = para siswa berdiri di atas lantai.
  • بِ = oleh. Contoh kalimat, اَنَا اَقْطَعُ التُّفَّاحَ بِالسِّكِّيْنِ = saya memotong buah apel dengan pisau.


Baca Juga: Stoikiometri Adalah - Hukum Dasar, Jenis, Rasio dan Contoh Soal Stoikiometri Secara Lengkap



Penelusuran yang terkait dengan Apa Itu Kalam
  • apa itu kalam dalam ilmu nahwu
  • pembagian kalam
  • contoh kalam
  • macam-macam kalam
  • apa itu kalam allah
  • syarat kalam
  • makalah nahwu bab kalam
  • ada berapakah pembagian kalam