Pengertian Pembelajaran Adalah: Menurut Para Ahli, Teori, Tujuan dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran


Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.

Salah satu pengertian pembelajararan dikemukakan oleh Gagne (1977) yaitu pembelajaran adalah seperangkat peristiwa -peristiwa eksternal yang dirancang untuk mendukung beberapa proses belajar yang bersifat internal. Lebih lanjut, Gagne (1985) mengemukakan teorinya lebih lengkap dengan mengatakan bahwa pembelajaran dimaksudkan untuk menghasilkan belajar, situasi eksternal harus dirancang sedemikian rupa untuk mengaktifkan, mendukung, dan mempertahankan proses internal yang terdapat dalam setiap peristiwa belajar.

 

Baca Juga: Pengertian Antibodi Adalah - Ciri Ciri, Fungsi, Jenis-Jenis, Ganguan Antibodi dan Tanda Daya Tahan Tubuh Lemah

 

Beberapa ahli merumuskan pengertian pembelajaran:

  • Menurut Syaiful Sagala, pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan meupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik.
  • Menurut Corey pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.
  • Menurut Oemar Hamalik pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material pasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran. Manusia yang terlibat dalam proses pembelajaran terdiri atas siswa, guru dan tenaga lainnya, misalnya tenaga labolatorium. Materil meliputi buku-buku, papan tulis, fotografi, slide dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual juga komputer. Prosedur meliputi jadwal, dan metose penyampaian informasi, praktek, balajar, ujian dan sebagainya.

Dari teori-teori yang dikemukakan banyak ahli tentang pembelajaran Oemar Hamalik mengemukakan tiga rumusan yang dianggap lebih maju dibandingkan dengan rumusan terdahulu yaitu:

  1. Pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik.
  2. Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik.
  3. Pembelajaran adalah suatu proses membantu siswa mengahadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Proses pembelajaran dalam pendidikan Islam sebenarnya sama dengan proses pembelajaran pada umumnya, namun yang membedakan bahwa dalam pendididikan Islam proses maupun hasil belajar selalu inhern, dengan keislaman.Keislaman melandasi aktivitas belajar, menafsirkan perubahan yang terjadi serta menjiwai aktifitas berikutnya.

 

Teori pembelajaran

Tiga teori telah ditawarkan untuk menjelaskan proses di mana seseorang memperoleh pola perilaku, yaitu teori pengkondisian klasik, pengkondisian operan, dan pembelajaran sosial.
Pengondisian klasik

  •  Teori Pengkondisian Klasik

Pengkondisian klasik adalah jenis pengkondisian di mana individu merespon beberapa stimulus yang tidak biasa dan menghasilkan respons baru. Teori ini tumbuh berdasarkan eksperimen untuk mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bel yang berdering, dilakukan pada awal tahun 1900-an oleh seorang ahli fisolog Rusia bernama Ivan Pavlov.

  • Pengondisian operant

Pengkondisian operan adalah jenis penglondisian di mana perilaku sukarela yang diharapkan menghasilkan penghargaan atau mencegah sebuah hukuman. Kecenderungan untuk mengulang perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku.Dengan demikian, penegasan akan memperkuat sebuah perilaku dan meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut diulangi.Apa yang dilakukan Pavlov untuk pengkondisian klasik, oleh psikolog Harvard, B. F. Skinner, dilakukan pengkondisian operan. Skinner mengemukakan bahwa menciptakan konsekuensi yang menyenangkan untuk mengikuti bentuk perilaku tertentu akan meningkatkan frekuensi perilaku tersebut.

  • Pembelajaran sosial

Pembelajaran sosial adalah pandangan bahwa orang-orang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung.Meskipun teori pembelajaran sosial adalah perluasan dari pengkondisian operan, teori ini berasumsi bahwa perilaku adalah sebuah fungsi dari konsekuensi. Teori ini juga mengakui keberadaan pembelajaran melalui pengamatan dan pentingnya persepsi dalam pembelajaran.

 

Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran (instructional objective) adalah perilaku hasil belajar yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu. Hal ini didasarkan berbagai pendapat tentang makna tujuan pembelajaran atau tujuan instruksional.Magner (1962) mendefinisikan tujuan  pembelajaran sebagai tujuan perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh  peserta didik sesuaikompetensi. Sedangkan  Dejnozka dan Kavel (1981) mendefinisikan tujuan pembelajaran adalah suatu pernyataan spefisik  yang dinyatakan dalam bentuk perilaku yang diwujudkan dalam bentuk tulisan  yangmenggambarkan hasil belajar yang diharapkan.

 Pengertian lain menyebutkan bahwa, tujuan pembelajaran adalah pernyataan mengenai keterampilan atau konsep yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik pada akhir priode pembelajaran (Slavin, 1994). Tujuan pembelajaran merupakan arah yang hendak dituju dari rangkaian aktivitas yang dilakukan dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk perilaku kompetensi spesifik, aktual, dan terukur sesuai yang diharapkan terjadi, dimiliki, atau dikuasai siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran tertentu.

Prinsip-Prinsip Pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu aktivitas (proses) yang sistematis dan sistematik yang terdiri atas komponen.Masing-masing komponen tidak bersifat parsial (terpisah), tetapi harus berjalan secara teratur, saling bergantung, konplementer dan berkelanjutan.Untuk itu diperlukan pengelolaan pembelajaran yang baik harus dikembangkan berdasarkan pada asas-asas pembelajaran.Prinsip-prinsip pembelajaran ini muncul dari penemuan para ahli psikologi kemudian diaplikasikan dalam bidang pendidikan sehingga lahirlah prinsip-prinsip pembelajaran.


1. Aktivitas

Belajar yang berhasil mestilah memlalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis. Seluruh perasaan dan kemauan dikerahkan dan diarahkan supaya daya itu tetap aktif untuk mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal, sekaligus mengikuti proses pembelajaran secara aktif. Pada saat peserta didik aktif jasmaninya, dengan sendirinya dia juga aktif jiwanya, begitu sebaliknya. Karena itu keduanya merupakan satu kesatuan, dua keeping satu mata uang. Menurut J. Piaget, “seorang anak berpikir sepanjang ia berbuat, tanpa berbuat anak tak berpikir” agar ia berpikir sendiri (aktif), ia harus diberi kesempatan untuk berbuat sendiri. Disini berlaku prinsip “learning by doing, learning by doing experience”. Menurut prinsip ini seorang guru hanya menyajikan bahan pelajaran, peserta didiklah yang mengolah dan mencernanya sendiri sesuai kemauan, bakat dan latar belakangnya. “you can lead a horse to water but you canot make him drink”.
Keaktifan itu ada dua macam, yaitu keaktifan rohani dan keaktifan jasmani atau keaktifan jiwa dan keaktifan raga. Dalam kenyataan kedua hal itu bekerjanya tidak dapat dipisahkan. Misalnya orang yang sedang berpikir. Berpikir adalah keaktifan jiwa tetapi itu tidak berarti bahwa dalam keaktifan berpikir raganya pasif sama sekali. Paling sedikitnya bagian raga yang diperlukan selalu untuk berpikir taitu otak tentu juga tentu juga seperti urat saraf dan lain-lain.
Proses keaktifan yang telah diuraikan di atas perlu mendapat perhatian dari guru. Keaktifan jasmani dan rohani yang dapat dilakukan disekolah menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Paul B. Diedrich meliputi:

  1. Visual activities, seperti membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan dan sebagainya.
  2. Oral activities, seperti menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, interview, diskusi, dan sebagainya.
  3. Listening activities, seperti mendengarkan uraian percakapan, diskusi, music, pidato, ceramah, dan sebagainya.
  4. Writing activities, seperti menulis cerita, karangan laporan, angket, menyalin, dan sebagainya.
  5. Drawing activities, seperti menggambar, membuat grafik, peta, patron, dan sebagainya.
  6. Motor activities, seperti menangkap, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, dan mengambil keputusan, dan sebagainya.
  7. Emotional activitie, seperti menaruh minat gembira, berani, tenang, gugup, kagum, dan sebagainya.

Dalam pendidikan Agama asas aktivitas dapat dilaksanakan sebagai berikut:

  • Pada pengajaran akhlak dapat dilaksanakan latihan untuk mengadakan pertolongan bersama untuk korban bencana dan kecelakaan seperti; banjir, angin topan, gunung meletus, kelaparan dan sebagainya; caranya dapat dilakukan dengan mengadakan pengumpulan uang, beras, botol kosong, Koran bekas, dan sebagainya. Memberikan uang atau barang sebagai derma untuk keperluan sesuatu merupakan persiapan yang sangat penting untuk pelaksanaan rukun Islam yang ke-4 yaitu “zakat” dimana orang harus melepaskan sebagian kecil dari miliknya dengan ikhlas.
  • Memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membangkitkan keaktifan anak-anak untuk berpikir sendiri, antara lain mengenai hal-hal yang halal dan haram, yang wajib dan yang sunat, yang baik dan yang buruk, perbuatan-perbuatan yang luhur dan yang tercela dan sebagainya.
  • Memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengutamakan pengalaman-pengalamannya waktu bulan puasa, lebaran dan sebagainya.


2.Motivasi

Seorang pengajar harus dapat menimbulkan motivasi anak. Motivasi ini sebenarnya banyak dipergunakan dalam berbagai bidang dan situasi, tapi di dalam uraian ini diarahkan pada bidang pendidikan, kuhususnya pada proses bidang pembelajaran. Menurut Crider, motivasi adalah “sebagai hasrat, keinginan dan minat yang timbul dari seseorang dan langsung ditujukan kepada suatu objek”.
            W.H. Burton dalam buku “The Guidance of Learning Activity” membedakan dua jenis motivasi yaitu : (1) Instrinsic Motivation, dan (2) Extrinsic Motivation.Yang dimaksud dengan instrintic motivation adalah suatu cita-cita atau daya yang telah ada dalam diri individu yang mendorong seseorang untuk berbuat dan melakukan sesuatu, sedangkan extrinsic motivation ialah segala suatu yang dating dari luar yang menjadi cemeti bagi murid-murid agar berbuat lebih giat. Ke dalam motivasi extrinsic termasuk juga : ijazah, nilai yang tinggi, hadiah, ganjaran, penghargaan dan lain-lain.Sebagai proses, motivasi mempunyai fungi antara lain :

  • Member semangat dan mengaktifkan murid agar tetap berminat belajar dan bekerja
  • Memusatkan perhatian anak-anak pada tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian hasil belajar.
  • Membantu memenuhi kebutuhan hasil jangka panjang dan hasil jangka pendek.

Usman Najati menyebutkan tiga macam bentuk motivasi seperti termaktub dalam Al- Quran, yakni (1) janji (antara lain Al- Baqarah 81-82), (2) ancaman (antara lain Yusuf 111), (3) pemanfaatan peristiwa-peristiwa penting (antara lain At-Taubah 25-26).


3.Individualitas

Salah satu keunikan ciptaan Allah adalah bahwa setiap individu sebagai manusia merupakan orang-orang yang memiliki pribadi/jiwa sendiri. Tidak ada dua manusia yang sama persis, sekalipun kembaran. Kekhususan jiwa itu menyebabkan individu yang satu berbeda dengan individu yang lainnya.
Azas individualitas ini hendaknya menjadi perhatian pendidik. Setiap guru yang menyelenggarakan pembelajaran hendaknya selalu memperhatikan dan memahami serta berupaya menyesuaikan bahan pelajaran dengan keadaan peserta didiknya, baik menyangkut perbedaan segi usia, bakat, kemampuan, intelegensi, perbedaan fisik, watak dan sebagainya.
Individu adalah manusia, seorang yang memiliki pribadi jiwa sendiri. Kehalusan jiwa itu menyebabkan individu memiliki karakteristik sendiri dalam kedudukannya di tengah-tengah komunitas, masing-masing memiliki individual difference (al-farq fardiyah).
Adanya perbedaan individual menunjukan pula adanya perbedaan kondisi belajar setiap orang, agar setiap individu dapat berkembang optimal dalam proses belajar diperlukan orientasi yang paralel dengan kondisi yang dimilikinya, dituntut penghargaan guru dalam individualitas.
Untuk memenuhi prinsip perbedaan individu ada dua macam pendekatan yaitu: pendekatan pertama menitik beratkan kepada pengajaran individual untuk memenuhi kebutuhan individu dan belajar kelompok hanya menjadi pelengkap sosialisasi. Sebaliknya pendekatan kedua berusaha memenuhi perbedaan individu dengan mengorganisir kegiatan-kegiatan belajar yang perlu bagi murid dalam hubungannya dengan kegiatan kelompok.
Untuk menyesuaikan materi ajar dengan perbedaan individu-individu diperlukan usaha-usaha sebagai berikut.

  • Individualized assignment - Merencanakan tugas-tugas perorangan sesuai dengan kebutuhan murid yang bersangkutan.
  • Pengajaran unit atau proyek - Anak-anak secara bersama-sama membuat suatu proyek, dan dalam proyek itu anak-anak dapat bekerja sendiri sesuai dengan minatnya.
  • Dengan teknik bertanya - Pertanyaan yang sukar diberikan kepada murid yang pandai dan pertanyaan yang mudah diberikan kepada murid yang kurang pandai.
  • Remedial work - Memperbaiki kesalahan dan mencarikan jalan keluar atas kesulitan yang dirasakan oleh murid-murid secara individual. Untuk mengetahui kesulitan murid-murid dilakukan “Diagnostic test”
  • Homogeneous grouping - Mengelompokan murid atas kemampuan dan memberikan tugas sesuai dengabn pengelompokannya.
  • Pemberian tugas di luar sekolah - Anak-anak yang kurang pandai diberi tugas berupa latihan sedang anak yang pandai diberi tugas tambahan.


4.Keperagaan

Peragaan meliputi semua pekerjaan panca indera yang bertujuan untuk mencapai pengertian pemahaman sesuatu hal secara lebih tepat dan menggunakan alat-alat indera. Alat indera merupakan pintu gerbang pengetahuan. Untuk memiliki sesuatu kesan yang terang dalam peragaan, maka murid haru mengamati bendanya tidak terbatas pada luarnya saja, tapi harus dalam segala macam seginya, dianalisis, disusun, dikomparasikan, sehingga murid dapat memperoleh gambaran yang lengkap.
Alat peraga dalam pembelajaran dibekan menjadi dua:
a. Alat peraga langsung, yang dimaksud dengan alat peraga langsung adalah melihatkan benda aslinya, seperti bila kita mengajarkan tentang kucing , maka sebagai akat peraga langsung ialah kucing itu sendiri yang diperlihatkan kepada murid.
b. Alat peraga tidak langsung,

  1. Model, apabila kita tidak mungkin membawa benda yang sebenarnya ke sekolah maka guru dapat membuat model dari benda itu, umpanya; guru mengajarkan tentang lalu lintas dalam suatu kota, sebagai alat peraga guru dapat membuat maket dari kota tersebut.
  2. Gambar, gambar ini dapat pula dibedakan lagi atas Gambar mati seperti gambar biasa , Gambar yang diperoyeksikan seperti: slide, apaq     ue, OHP, In Focus, film strip, video cassette,VCD, dan sebagainya.

Keuntungan yang diperoleh dari keperagaan adalah sebagai berikut:

  1. Menghemat waktu dalam belajar
  2. Menambha kemantapan sesuatu yang telah dipelajari oleh murid-murid
  3. Kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan penuh kegembiraan
  4. Mengkongkritkan yang bersifat abstrak

 

5. Ketauladanan

Sejak pase-pase awal kehidupan manusia banyak sekali belajar lewat peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang-orangdisekitarnya, khususnya dari orang tuanya. Al-Quran telah memberikan contoh bagaimana manusia belajar lewat meniru. Kisah tentang Qabil yang dapat mengetahui bagaimana menguburkan mayat saudaranya Habil yang telah dibunuhnya, diajarkan oleh Allah melalui peniruaan seekor gagak yang menggali-gali tanah guna menguburkan bangkai seekor gagak yang lain.
Kecendrungan manusia untuk meniru atau belajar lewat peniruan menyebabkan ketauladanan menjadi sangat penting dalam proses pembelajaran. Rasulullah adalah suri tauladan yang baik bagi umat islam.
Ketauladanan dalam pendidikan adalah metode influitif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam mempersiapkan dan membentuk moral spiritual dan social anak. Hal ini adalah karena pendidik merupakan contoh terbaik dalam pandangan anak yang akan ditirunya dalam tindak-tanduknya, dan tata santunnya, disadari atau tidak bahkan terpatri dalam jiwa dan perasaannya gambaran seorang pendidik.
Menurut Edi Suardi ketauladanan itu ada dua macam yaitu:

  1. Sengaja berbuat secara sadar untuk ditiru oleh di terdidik
  2. Berprilaku sesuai dengan nilai dan norma yang akan kita tanamkan pada peserta didik sehingga tanpa sengaja menjadi teladan bagi peserta didik.

Ulwan mengatakan bahwa masalah keteladanan menjadi factor penting dalam hal baik buruknya anak, jika pendidik jujur, dapat dipercaya, berakhlak mulia, berani dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan ajaran agama, maka anak akan tumbuh menjadi orang yang jujur, berakhlak mulia, berani dalam sikap, menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang bertentangan yang diajarkan oleh agama. Dan jika pendidik pembohong, berkhianat, durhaka, kikir, penakut, dan hina, bagaimanapun suci dan beningnya fitrah anak dan bagaimanapun besarnya usaha dan sarana yang dipersiapkan untuk pendidikan anak, anak tidak akan mampu memenuhi prinsip-prinsip kebaikan dan kepribadian utama selam ia tidak melihat sang pendidik sebagai teladan, dan mempunyai nilai-nilai moral yang tinggi.
Oleh karena itu, adanya pengaruh yang begitu besar, dari keteladanan harus kita manfaatkan untutk pendidikan agama. Dengan keteladanan serta menampilkan pribadi yang baik secara wajar tanpa dibuat-buat atau memaksakan diri sedemikian rupa, wajah yang cerah hidup yang wajar dan pribadi yang luhur akan memberikan pengaruh yang kuat terhadap anak didik, sehingga inti kewibawaan yang sangat pribadi dalam pendidikan akan datang dengan sendirinya.


6.Pembiasaan

Pembiasaan adalah upaya praktis dalam pembinaan dan pembentukan kepribadian anak. Hasil dari pembiasaan yang dilakukan oleh pendidik adalah terciptanya suatu kebiasaan bagi anak didik. Kebiasaan adalkah satu tingkah laku tertentu yang sifatnya otomatis, tanpa direncanakan terlebih dahulu, dan berlaku begitu saja tanpa dipikirkan lagi/
            Dalam kehidupan sehari-hari pembiasaan itu merupakan hal yang sangat penting, karena banyak kita lihat orang yang berbuat dan bertingkah laku hanya karena kebiasaan semata-mata. Tanpa itu hidup kita akan berjalan lambat sekali; sebab sebelum melakukan sesuatu kita harus memikirkan terleboh dahulu apa yang akan dilakukan.
Hal ini dibenarkan oleh Mahmud Yunus sebagaimana katanya: “sebenarnya manusia hidup di dunia ini menurut kebiasaan (adat) penghidupan menurut adatnya, makan menurut adatnya, bahkan ia bahagia dan celaka menurut adatnya, jujur atau khianatnya menurut adatnya begitulah seterusnya. Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan akan sulit mengubahnya”.
            Pembiasaan dalam pendidikan agama hendaknya dimulai sedini mungkin Rasulullah memerintahkan kepada para pendidik agar mereka menyuruh anak-anak mengerjakan shalat, tatkala berumur tujuh tahun.
            Sabda Rasulullah SAW
Artinya:
            “Suruhlah anak-anakmu menegerjakan shalat, ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka jika enggan mengerjakan kalau mereka sudah berumur sepuluh tahun, dan pisahkan antara mereka ketika mereka tidur”. (H.R. Muslim)


7. Korelasi

Asas korelasi adalah asa yang menghendaki agar materi pembelajaran antara satu mata pelajaran engan mata pelajaran lainnya disajikan secara terkait dan integral.Adapun prinsip korelasi ini bertitik tolak dan teori Getal yang menyatakan bahwa “keseluruhan itu lebih memiliki makna daripada bagian-bagian”. Dan jumlah bagian-bagian itu baru ada arti dan maknanya jika dihubunbgkan dalam satu kesatuan dan terpadu. Atas dasar inilah kemudian disusun suatu organisasi kurikulum yaitu Correlated Curriculum dalam pengajaran, yakni suatu kurikulum yang berorientasi untuk mengkorelasikan dan menghubungkan berbagai mata pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lainnya yaitu melalui:

  1. Cara Korelasi Okasional - Cara okasional artinya dilakukan dengan jalan sewaktu-waktu guru menghubungkan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya (misalnya pelajaran bahasa Arab dengan pelajaran Tafsir)
  2. Cara Korelasi Total - Adalah penggabungan tersebut dilakukan antara mata pelajaran agama dengan mata pelajaran umum menjadi sayu-kesatuan cara ini dilakukan karena rencana pelajaran disusun atas dasar organisasi kurikulum Integrated Curiculum dalam hal ini hanya dapat dilakukan pada pengajaran proyek, yang dilaksanakan secara terprogram dan terencana. Namun dalam batas-batas tertentu dapat saja dilaksanakan dalam proses pembelajaran di dalam kelas.


Azas korelasi ini hendaknya diupayakan dalam setiap situasi pembelajaran. Adanya azas korelasi dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat

  •  Pelajaran disajikan dalam satu kesatuan yang utuh atau integral dalam bagian-bagian yang terpisah
  • Pengetahuan dan pengertian anak tentang agama menjadi integral, karena pelajaran selalu di hubungkan dengan pelajaran umum dan keadaan lingkungan anak didik.
  • Dapat membimbing kepada pembentukan kepribadian yang sempurna dan kaffah. Bukan kepribadian yang pecah.

 

8.Azas Minat dan Perhatian

Setiap individu mempunyai kecendrungan fundamental untuk berhubungan dengan sesuatu yang ada dalam lingkungannya. Apabila sesuatu itu memberikan kesenangan pada dirinya, kemungkinan Ia akan berminat terhadap sesuatu itu. Menurut Crow dan Crow minat itu diartikan sebagai kekuatan pendorong yang menyebabkan individu memberikan perhatian kepada seseorang, atau kepada aktivitas-aktivitas tertentu.
Selanjutnya Bimo Walgito menyatakan bahwa minat adalah suatu keadaan dimana seseorang mempunyai perhatian terhadap sesuatu dan disertai dengan keinginan utnuk mengetahui dan mempelajari maupun membuktikan lebih lanjut.
Perhatian salah satu factor psikologis yang dapat membantu terjadinya interaksi dalam proses pembelajaran. Kondisi psikologi itu dapat terbentuk melalui dua hal: pertama, yang timbul secara instrinsik dan yang kedua melalui bahan pelajaran (content). Peranan perhatian dalam proses belajar diungkapkan dalam Al-Quran antara lain: Al’Araf 204, Ibrahim 24-25.
Azas perhatian ini dapat dibedakan atas dua bentuk yaitu (1) perhatian spontan, (2) perhatian karena didorong atau perhatian yang diusahakan. Pada perhatian spontan biasanya timbul karena kesadaran pribadi dan bukan paksaan, sehingga perhatian spontan ini sifatnya tahan lama dan sulit untuk dilupakan. Kemudian pada perhatian karena didorong atau diusahakan timbul karena adanya suatu dorongan tertentu atau karena diciptakan, perhatian yang sifatnya didorong atau diusahakan ini sangat penting sekali dalam pelaksanaan pembelajaraan, karena banyak anak mengikuti pengajaran yang diberikan di sekolah pad umumnya kurang serius.
Miaslnya guru membuat perhatian anak didik tertuju atau terpusat pada pelajaran yang disampaikan, jadi disini dapat kita lihat bahwa perhatian pesrta didik terpusat karena adanya usaha oleh guru, walaupun sifat perhatian tersebut kurang serius.

 

Baca Juga: Batuan adalah - Menurut Para Ahli, Jenis – Jenis Batuan dan Karakteristik Jenis-Jenis Batuan Beserta Gambarnya

 

Demikian Penjelasan Tentang   Pengertian Pembelajaran  Adalah: Menurut Para Ahli, Teori, Tujuan dan Prinsip-Prinsip Pembelajaran . Jangan Lupa selalu kunjungi referensisiswa.my.id untuk mendapatkan Artikel Lainnya. Terimakasih

 

 Penelusuran yang terkait dengan Pengertian Pembelajaran

  • pengertian pembelajaran secara umum
  • pengertian pembelajaran pdf
  • pengertian pembelajaran menurut para ahli
  • pengertian definisi pembelajaran
  • makalah pengertian pembelajaran
  • pengertian pembelajaran daring
  • artikel pengertian pembelajaran
  • pengertian pembelajaran menurut kbbi